BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Latar
belakang Kebangkitan dunia Islam sebenarnya sudah banyak dipaparkan dalam
al-Quran. Misalnya, dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 54. Disitu disebutkan
ciri-ciri satu kaum yang dijanjikan Allah yang akan meraih kemenangan: mereka
dicintai Allah dan mereka mencintai Allah; mereka saling mengasihi sesama
mukmin; mereka memiliki sikap ‘izzah terhadap orang-orang kafir, mereka
berjihad di jalan Allah, dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang
memang suka mencela. Kaum seperti inilah yang harus mampu dibentuk oleh umat
Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Hanya
saja, saat bicara tentang kebangkitan Islam, maka yang perlu didefinisikan
terlebih dahulu adalah apa yang sebenarnya disebut dengan “bangkit”. Sebab,
jangan-jangan, makna kata “bangkit” itu sendiri sudah kabur di benak banyak
kaum Muslimin. Seperti kaburnya makna kata “kemajuan”, “pembangunan”,
“kebebasan”, dan sebagainya. Misalnya, negara-negara Barat membuat definsi yang
materialistis terhadap makna “kemajuan”. Mereka membagi negara-negara di dunia
menjadi negara maju, negara sedang berkembang dan negara terbelakang. Tentu
saja, ukuran-ukuran yang digunakan adalah ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak
tidak masuk dalam definisi “kemajuan” atau “pembangunan” tersebut. Jadi, jika
dikatakan suatu negara sudah maju, maka yang dimaksudkan adalah kemajuan
materi, khususnya dalam ekonomi, sains dan teknologi. Padahal, secara akhlak,
negara itu sebenarnya hancur-hancuran.
Kita,
kaum Muslimin yang masih memiliki keimanan dan menjaga akhlak mulia, sudah
selayaknya tidak merasa hina dan rendah martabat saat berhadapan dengan dunia
Barat yang serba gemerlap dalam dunia materi. Kita sungguh kasihan kepada
sebagian pejabat kita yang rela begadang, bersorak-sorai, menghambur-hamburkan
uang hanya untuk menyambut pergantian Tahun Baru dalam tradisi Barat. Mestinya,
jika mereka Muslim, mereka mengajak rakyatnya untuk beribadah, mensyukuri
setiap tambahan nikmat umur yang mereka terima dari Allah SWT.[1]
B. Rumusan Masalah
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah dan kejayaan Islam?
2. Apa saja faktor-faktor kebangkitan
dunia Islam?
3. Apa makna dari kebangkitan dunia
Islam?
4. Bagaimana syarat-syarat kebangkitan
dunia Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Sejarah dan Kejayaan Islam
Sejarah Islam di dunia mencatat bahwa Islam menjadi
satu-satunya agama yang berkembang paling cepat. Nabi Muhammad hidup hanya usia
63 th, beliau menjadi nabi sejak usia 40 th, dan hanya 23 th saja beliau
menjadi mampu mendidik generasi Islam yang luar biasa. Generasi-generasi Islam
yang mampu menguasai peradaban dunia dalam kurun waktu ± 13 abad dan menciptaka
sejarah Islam di dunia dengan citra yang baik.
Sebuah sejarah baik yang terlahir dari sejarah Islam di
dunia memang telah ditorehkan oleh Nabi Muhammad saw. Berkat kepemimpinan dan
usaha yang baik untuk menegakkan Islam, beliau diakui sebagai seorang pemimpin
yang berhasil. Bahkan oleh masyarakat di luar agama Islam itu sendiri. Sebuah
kebanggan memiliki panutan seperti beliau. Bahwa ketekunan dan kesabaran yang
beliau miliki memang tidak perlu lagi diragukan sebagai pelajaran hidup. Sejarah
Islam di dunia bahkan mencatat pemkiran dari seorang Perancis yang menyatakan
kehebatan dari dunia Islam. Dr. Gustave Le Bone, seorang pemikir dari Perancis
pernah mengatakan bahwa tidak ada bangsa-bangsa manapun yang bisa mengadakan
perubahan berarti bagi dunia dalam satu abad. Tapi cerita sejarah di dunia
mengatakan bahwa umat Islam yang dipimpin oleh Muhammad sudah dapat mengadakan
perubahan masyarakat baru yang signifikan hanya dalam tempo 23 th. Suatu hal
yang luar biasa dan tidak dapat ditiru oleh orang atau bangsa manapun.
Sejarah Islam di dunia berlangsung dari abad ke-6 Masehi
hingga abad ke-12 Masehi. Dimulai dari periode kepemimpinan Nabi Muahammad SAW
( 622-632 M ), kemudian diteruskan oleh generasi Khulafaurasyidin ( 750-1258
M), kemudian masa kekhalifahan bani Umayyah ( 661-750 M ), dan Bani Abbasiyah (
750-1258 M ) hingga terakhir rutuhnya kekhalifahan Turki Usmani pada tanggal 3
Maret 1924 M.[2]
1.
Periode Kepemimpinan Nabi Muhammad ( 622-632 M )
Perkembangannya dibagi menjadi dua fase, yaitu fase
perjuangan di Mekkah dan fase perkembangan Islam di Madinah. Fase mekkah
berlangsung selama 13 th. Fase ini merupakan fase paling berat yang dialami
Nabi Muhammad karena ia harus mengahadapi berbagai tantangan dari kaum kafirin.
Karena besarnya tantangan di mekkah, nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya pun
hijrah ke Madinah. Dilanjutkan fase kedua perkembangan Islam terjadi di Madinah
dan berlangsung selama 10 th. Fase ini dimulai saat nabi Muhammad dan
pengikutnya hijrah dari Mekkah. Di Madinah , nabi mulai membangun peradaban dan
masyarakat yang madani di bawah pemerintahan Islam.
Setelah terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah, Islam
pun kemudian menyebar dengan cepat ke negara-negara lain. Wilayah penyebarannya
meliputi asia barat daya, asia tengah dan wilayah afrika.
2.
Periode Khulafaurasyidin
Setelah wafatnya nabi Muhammad, pemerintahan Islam dipimpin
oleh para khalifah dari kalangan sahabat nabi, yaitu Abu bakar as-sidiq, umar
bin khatab, ustman bin affan dan ali bin abi thalib. Pada masa ini gerakan
penaklukan pun terus bergulir dengan cepat. Umat Islam berhasil menguasai
wilayah arabia timur dan utara. Mereka juga berani menyerang benteng-benteng
pertahanan romawi timur, persia, irak, siria dan mesir dapat ditaklukkan dalam
kuun waktu yg tidak telalu lama.
3.
Bani Umayyah
Kedaulatan Umayyah pertama kali dipimpin oleh Muawiyah bin
abu sofyan. Pada masa ini perluasan wilayah dilanjutkan dengan menaklukkan
Tunisia. Kemudian ekspansi belanjut ke sebalah timur untuk menguasai daerah
Khurasan, Afghanistan sampai ke Kabul. Diwarnai dengan adegan-adegan
menegangkan layaknya adegan di film perang. Pasukan Islam menyiapkan banyak
pasukan. Dari anakatan laut, umat Islam melakukan serangan ke binzantium.
Ekspansi ke bagian timur dilanjutkan malik bin marwin, perluasan wilayah
dilakukan dengan menguasai balkanabad, bukhara, khawarizm, ferghana dan
samarkhan. Bahkan ada pula para pejuang Islam yang sampai ke india dan melakukan
penaklukan sebagian wilayah di sana. Perluasan wilayah tsb berlanjut dari satu
pemimpin hingga ke pemimpin beriktnya. Islam mulai merambahi daratan eropa,
afrika dan asia. Pada masa ini banyak terjadi peselisihan dan perang saudar
anatar sesama umat Islam. Hal ini yg menyebabakan runtuhnya bani ummayyah th
750 M.
4.
Bani Abbasiyah
Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: العبّاسدين,
al-Abbāsidīn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad
(sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan
dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan
tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah
merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia.
Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda,
yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga
termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota
dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan
meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari
tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk.
Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran,
kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti
setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada
keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada
Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan
bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak
menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.
Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat
tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan
kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim
di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada
masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan
akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah
Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil
memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali
kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan
budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut
ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh
Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan
mulai memisahkan diri dari kekhalifahan.
Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol
yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim
bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain,
seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak
perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909,
sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya
menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai
memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya
Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka
kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah.
Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa
bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka
mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan
kembali pada tahun 1031.
5.
Turki Usmani
Ustmaniyah didirikan oleh bani utsman yang berkuasa lebih
dari 6 abad. Pada masa ini, zaman khalifah sulaiman al qanuni ( 1520-1566 )
merupakan masa kejayaan dan kebesaran yang pada masanya telah jauh meninggalkan
peradaban eropa di segala bidang. Kesultanan utsmaniyah perlahan-lahan terkikis
dan makin runtuh pada abad ke-19. Musuh-musuh Islam telah berhasil meleaskan
ideologi Islam dari tubuh umat Islam. Mereka membutuhkan waktu selama satu abad
melemahkan kekuatan Islam. Akhir peradaban Islam masa utsmaniyah benar-benar
runtuh pad abad ke-20.
B. Kemunduran
Islam
Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan ummat Islam berdiri di
atas agama Islam itu sendiri. Hal ini juga sudah menjadi rahasia umum, bahkan
musuh-musuh Islam juga tahu bahwa Islam itu sendiri tidak dapat dilemahkan jika
penganut-penganutnya masih mempunyai keimanan yang kuat. Dari sini mulailah
mereka mencari jalan dan cara yang terbaik bagaimana untuk melemahkan pemahaman
orang Islam terhadap Islam itu sendiri. Tidak sampai disitu, mereka juga
mencari jalan bagaimana memberi keraguan kepada kitab yang menjadi pegangan
ummat Islam (baca: Al-Qur'an dan As-sunnah), dan mereka juga memutar belitkan
fakta Sejarah dan Tsaqafah Islamiyah melalui berbagai opini dan tulisan,
sehingga generasi ummat Islam berikutnya menjadi ragu atas keotentikan agama Islam
itu sendiri.
Kalau kita mengkaji lebih dalam lagi tentang pergerakan orientalisme dan karya-karya mereka tentang Islam, maka kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa keganjilan-keganjilan yang diciptakan oleh mereka pada intinya untuk memberi keraguan kepada ummat Islam terhadap agama yang mereka anut, sehingga mengakibatkan ummat Islam pada saat ini banyak yang termakan racun orientalisme. Sebut saja misalnya, dalam sebuah seminar keIslaman yang diadakan oleh organisasi Islam di Yogyakarta, salah seorang pemakalah yang berfikiran liberal memegang Al-quran dengan kedua jarinya dan mengatakan “Siapa yang berani menjamin bahwa al-Quran yang saya pegang ini benar-benar berasal dari Allah SWT.
Sebenarnya banyak faktor kenapa ummat Islam menjadi lemah seperti sekarang ini? Di antara penyebabnya adalah:
Kalau kita mengkaji lebih dalam lagi tentang pergerakan orientalisme dan karya-karya mereka tentang Islam, maka kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa keganjilan-keganjilan yang diciptakan oleh mereka pada intinya untuk memberi keraguan kepada ummat Islam terhadap agama yang mereka anut, sehingga mengakibatkan ummat Islam pada saat ini banyak yang termakan racun orientalisme. Sebut saja misalnya, dalam sebuah seminar keIslaman yang diadakan oleh organisasi Islam di Yogyakarta, salah seorang pemakalah yang berfikiran liberal memegang Al-quran dengan kedua jarinya dan mengatakan “Siapa yang berani menjamin bahwa al-Quran yang saya pegang ini benar-benar berasal dari Allah SWT.
Sebenarnya banyak faktor kenapa ummat Islam menjadi lemah seperti sekarang ini? Di antara penyebabnya adalah:
1.
Faktor Internal
-
Kurang Memahami Agama Islam itu sendiri
-
Keyakinan terhadap pintu istihaj
2.
Faktor Eksternal
-
Pergerakan Kristenisasi
-
Penjelajahan Portugis
-
Penjelajahan Spanyol
-
Pengampunan Dosa
C. Faktor-Faktor
Kebangkitan Dunia Islam
1.
Pemahaman umat akan kehidupan pemerintahan yang beraneka
ragam yang menerapkan kapitalisme, sosialisme, dan sekularisme yang tampak
jelas kelemahannya dalam mewujudkan kebahagiaan bagi manusia atau mencapai
kebangkitan dan memperbaiki kondisi mereka.
2.
Pemahaman umat akan kepalsuan seruan patriotisme dan
nasionalisme. Pemahaman ini gagal menyatukan kelompok-kelompok bangsa yang
satu, apalagi untuk menyatukan umat.
3.
Kemunculan sejumlah harakah, partai dan kelompok Islam yang
menyerukan Islam secara umum atau menyerukan kebangkitan dengan asas Islam.
4.
Pemahaman umat akan permusuhan nyata negara-negara kafir
terhadap Islam dan kaum Muslim. Perhatian umat terhadap langkah-langkah negara
kafir dalam menanamkan doktrin, nilai-nilai dan propaganda kepada kaum Muslim.
Doktrin, tata-nilai dan propaganda kufur mereka itu di antaranya berupa seruan
kebebasan, demokrasi, penjagaan Hak Asasi Manusia dan sebagainya. Jika
perkaranya berkaitan dengan kaum Muslim maka lihat perkataan James Baker –
Menhan AS terdahulu – bahwa demokrasi tidak layak bagi bangsa-bangsa Timur
Tengah. Lihatlah Perancis, penyeru kebebasan, yang justru mengumumkan akan
mengintervensi Aljazair secara militer jika FIS memegang pemerintahan. Lihatlah
AS dan sikapnya terhadap pencaplokan tanah, yaitu Israel. Padahal AS mengetahui
kebengisan dan dosa Israel karena hal itu tidak perlu penjelasan. Lihatlah
Inggris yang bersegera menyematkan cap teroris dan fundamentalis kepada kaum
Muslim yang berjuang untuk Islam. Inggrislah yang mereka-reka istilah
fundamentalisme dengan sangat getol dikaitkan dengan setiap aktivitas fisik
menentang pemerintahan yang menekan berbagai bangsa karena Islam mereka. Masih
banyak lagi contoh yang tidak cukup tempat untuk memaparkannya.
5.
Kedudukan dan posisi tawar kaum Muslim terus menukik turun.
Kemiskinan, kehinaan, penyakit dan sebagainya terus menyebar di tengah-tengah
kaum Muslim di dunia. Hal itu menyebabkan kaum Muslim mulai berpikir mengenai
metode menyelesaikannya dan mulai berjuang demi kebangkitan.
6.
Munculnya sistem-sistem tiranik yang terus menimpakan
tekanan, siksaan, paksaan dan kezaliman. Hal itu menyebabkan kaum Muslim mulai
berpikir tentang perubahan, mencari metode paling efektif yang bisa
mengantarkan pada kebangkitan yang benar serta membebaskan dari ketidakadilan
dan kejahatan.
D. Makna
Kebangkitan Dunia Islam
Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung
terlintas di dalam benak adalah kata shaha-yashhu, yakni bangun dari
tidur. Akan tetapi, tatkala kita membicarakan kebangkitan Islam (ash-shahwah
al-Islamiyyah) maka maknanya benar-benar berbeda meskipun bahwa umat ini
sedang dalam kondisi terlena dari agamanya. Keadaan umat ini bagaikan orang
yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya. Realitanya, kedua pengertian
tersebut memiliki banyak kedekatan makna. Karena itu, penjelasan makna ash-shahwah
(kebangkitan) secara bahasa dan istilah sangat bermanfaat dan menghantarkan
untuk menjelaskan maksud dari tulisan buku ini dalam mewujudkan kebangkitan.
Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan
kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah)
sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan
serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita
hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari
kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat
terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri
darinya menuju realita yang lebih mulia.[3]
E. Syarat-Syarat
Kebangkitan Dunia Islam
1.
Pengetahuan Islam yang mendalam. Berbagai disiplin ilmu
harus dikuasai dengan baik semisal kalam, akhlak, fikih, Al-Quran, Hadist dan
cabang-cabang keilmuan Islam lainnya.
2.
Islam tidak bersifat personal. Persoalan-persoalan kaum Musliman
di belahan dunia manapun menjadi tanggung jawab seorang Muslim. Apa yang
terjadi di Palestina telah menjadi perhatian serius Imam Khomeini. Imam
menyerukan untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina.
3.
Berupaya untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis
antar berbagai kelompok dalam masyarakat, demokrasi hanyalah metode. Demokrasi
Barat didasari nilai-nilai liberalisme dan humanisme, sedangkan bagi Imam
Khomeini demokrasi harus diisi dengan nilai-nilai Islam yang suci. Dalam
penilaian Larijani, praktek demokrasi ala Barat telah gagal dalam menciptakan
situasi yang damai. Padahal, politik yang sebenarnya adalah bagaimana seluruh
umat beragama hidup berdampingan secara damai dan harmonis, ucapnya. Imam
Khomeini senantiasa menekankan pentingnya hidup harmonis dengan penuh kasih
sayang terhadap seluruh umat manusia. Dan Imam bertindak sangat tegas terhadp
musuh-musuh Islam dan kemanusiaan, yakni Amerika, Israel dan antek-anteknya.
4.
Menekankan pentingnya bangsa-bangsa Muslim menguasai Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Ia mencontohkan bagaimana kemajuan yang pesat Iran
dalam bidang sains dan teknologi sejak kemenangan revolusi. Berbagai bidang
seperti medis, pertanian, pertahanan hingga teknologi tinggi seperti nuklir.
5.
Menyeru kaum Muslimin untuk memperkuat infrastruktur ekonomi
dan pertahanan. Kemajuan teknologi rudal balistik yang dikuasai Iran, bagi
Larijani bukanlah untuk menyerang, tapi tindakan defensif dari serbuan ataupun
serangan musuh-musuh Iran.[4]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Sejarah Islam di dunia mencatat bahwa Islam menjadi
satu-satunya agama yang berkembang paling cepat. Nabi Muhammad hidup hanya usia
63 th, beliau menjadi nabi sejak usia 40 th, dan hanya 23 th saja beliau
menjadi mampu mendidik generasi Islam yang luar biasa. Generasi-generasi Islam
yang mampu menguasai peradaban dunia dalam kurun waktu ± 13 abad dan menciptkan
sejarah Islam di dunia dengan citra yang baik.
Sejarah Islam di dunia berlangsung dari abad ke-6 Masehi
hingga abad ke-12 Masehi. Dimulai dari periode kepemimpinan Nabi Muahammad SAW
( 622-632 M ), kemudian diteruskan oleh generasi Khulafaurasyidin ( 750-1258
M), kemudian masa kekhalifahan bani Umayyah ( 661-750 M ), dan Bani Abbasiyah (
750-1258 M ) hingga terakhir rutuhnya kekhalifahan Turki Usmani pada tanggal 3
Maret 1924 M.
Kemunduran islam terjadi karena adanya faktor internal maupun eksternal. Diantaranya kurang pemahaman terhadap agama itu sendiri, yang tidak mau berpegang teguh pada al qur’an dan sunnah, gerakan kristenisasi, penjelajahan samudera, pengampunan dosa, dll.
Kemunduran islam terjadi karena adanya faktor internal maupun eksternal. Diantaranya kurang pemahaman terhadap agama itu sendiri, yang tidak mau berpegang teguh pada al qur’an dan sunnah, gerakan kristenisasi, penjelajahan samudera, pengampunan dosa, dll.
Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah)
sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan
serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita
hidup umat.
Kelompok-kelompok yang tidak terorganisasi dan tidak berpolitik merupakan fondasi real bagi kebangkitan Islam yang tidak direkayasa, apalagi mereka merupakan sumber pijakan bagi kelompok-kelompok lain, baik yang moderat dan ekstrem, maupun yang politis.
Kelompok-kelompok yang tidak terorganisasi dan tidak berpolitik merupakan fondasi real bagi kebangkitan Islam yang tidak direkayasa, apalagi mereka merupakan sumber pijakan bagi kelompok-kelompok lain, baik yang moderat dan ekstrem, maupun yang politis.
DAFTAR PUSTAKA
Busthani
Muhammad Said, Pembaharuan dan Pembaruan dalam Islam, Terj. Mahsun
al-Munzir, Ponorogo Gontor: Pusat Studi Ilmu dan Amal, 1992.
Prof.
H. Muhammad Daud Ali, SH., Hukum Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2004.
http://ncofies.blogspot.com/2012/10/latar-belakang-dan-faktor-faktor.html diakses
09/07/2013
http:///C:/Users/PUSKOM%2035/Downloads/masa-kebangkitan-kembali-hukum-islam1.html diakses 09/06/2013
[1]
Busthani Muhammad Said, Pembaharuan dan Pembaruan dalam
Islam, Terj. Mahsun al-Munzir, (Ponorogo Gontor: Pusat Studi Ilmu dan Amal,
1992), h. 1-3.
[2] Prof. H. Muhammad Daud Ali, SH., Hukum Islam,
(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 42
[4] http:///C:/Users/PUSKOM%2035/Downloads/masa-kebangkitan-kembali-hukum-islam1.html diakses 09/06/2013
0 comments:
Post a Comment